Hampir setahun
belakangan, gue emang enggak pernah liburan. Jangankan ke luar kota, ke luar
daerah pun cuma sebatas bucket list
impian. Syukurnya, hari itu (21 November 2016) cita-cita gue terkabulkan.
Malaysia menjadi destinasi pertama gue bersama dengan 19 orang lainnya. Jujur,
gue belum pernah menginjakkan kaki di Negeri Jiran itu. Agak antusias sih, tapi
enggak berlebihan karena masih serumpun dengan Indonesia. Pesawat yang kami
tumpangi dijadwalkan berangkat siang. Sesuai dengan janji, gue berangkat jam
08.00 Wita dari rumah. Kepagian? Banget! Apalah daya, gue hanya berusaha tepat
waktu ketika obrolan grup Line mengharuskan datang lebih awal. Alasannya sederhana,
waktu check in yang memakan waktu cukup lama. Jadilah gue dengan satu koper
mini andalan hijau tua berukuran 30 x 22 x 50 cm siap menjelajah di negeri
orang. Oiya, meskipun koper gue paling kecil dibanding koper yang lain, cakupan
koper gue lumayan banyak lho, beberapa lembar baju dan celana gue gulung kecil
supaya daya tampungnya lebih banyak. Juga, satu tas jinjing Polo hitam yang sengaja gue bawa untuk
tempat oleh-oleh (demi keluarga, sahabat, dan orang-orang kantor kesayangan
gue).
Sampai di Bandara
Internasional Sultan Hasanuddin, kaki gue setengah berlari menuju salah satu
gerai fast food disana. Ternyata
masih banyak yang belum datang, sebagian dari mereka yang tepat waktu asyik
ngobrol, sisanya sibuk menghubungi beberapa teman yang masih di jalan. Hampir
dua jam, kami baru masuk untuk check in
dan melewati imigrasi. Penjagaan pihak imigrasi cukup ketat, bahkan sampai
musti buka jaket dan kaus kaki segala. Sialnya, Helni salah satu temen gue,
disuruh pihak imigrasi untuk makan di luar. Yup, doi ketahuan bawa makanan ke
dalam ruang tunggu. Berhubung gue juga bawa makanan dan laper banget, alhasil
gue sama Helni keluar dari ruang tunggu dan melahap habis tanpa sisa buliran
nasi yang sedap itu.
gengges APB 2015
Pesawa tiba, yey!
Kurang lebih empat jam dalam pesawat, kami tiba di bandara KLIA 2 Kuala Lumpur.
Bus berkapasitas lebih dari 40 orang itu siap mengantar kami langsung menuju Menara
Kembar Petronas (tancap, mas!). Dalam perjalanan, gue merasa Malaysia hampir
mirip dengan Jakarta yang dipenuhi banyak gedung pencakar langit. Bedanya,
sistem parkir disini jauh lebih rapih dan hampir tidak ada jalanan rusak atau
berlubang. Sampai di Menara Petronas, kami berpencar, gue bersama lima teman
wanita memilih masuk ke sebuah mall untuk cari makan. Gue ingat, pesanan gue saat
itu nasi putih, mie goreng bercampur sayur dan toge berukuran jumbo, sepotong
paha ayam berbalut tepung crunchy dengan
rasa pedas, serta air mineral botol yang entah apa merknya. Ayamnya enak bikin
nagih, tapi mie gorengnya kental dengan aroma toge yang aneh. Puas makan empat
sehat lima air mineral, kami keliling mall dengan tujuan cari jalan keluar. Eh,
enggak sengaja gue lihat brand sepatu Indonesia, Bata, yang nangkring manis di salah satu gerai. Wuih… rupanya Bata pemasarannya udah sampai sini, speechless sedikit norak nih gue haha.
Dari kejauhan, gue lihat produk Bata
makin oke dengan beragam varian dan model yang mengikuti jaman (ini bukan
promote, NOTED!).
bandara KLIA 2 Kuala Lumpur
Jarum jam pendek berada
tepat di angka lima, dengan jarum jam panjang agak condong berarah ke angka
tiga. Suasananya masih berasa jam 15.00 Wita versi Makassar. Kami rombongan
dari kota Daeng sibuk foto-foto dan ditawari aneka jualan pedagang di area
Menara Petronas. Dari mulai tongsis, fish
eye, sampai Iphone disodorkan.
Tidak tergoda, kami tetap kekeuh
mencari angle terbaik sebelum
akhirnya di upload ke sosial media
masing-masing.
Gambar ini diambil sekitar hampir jam 18.00, tapi masih berasa jam 16.00
Sampai di hotel, saya
sekamar dengan cabelita (sebutan kesayangan untuk ceu Helni dan Teti). Helni
sibuk video call bersama pacarnya,
maklum… di antara kami bertiga cuma pacarnya Helni yang suamiable banget.
Sementara gue luluran, Teti lagi berjuang melawan demam. Malam hari sebelum
berangkat, doi emang sempat curhat di multiperson
chat Line kalau lagi enggak enak badan. Helni juga ikutan sakit, entahlah…
antara malarindu yang berujung batuk menuju flu.
Besok paginya, meskipun
cabelita kurang fit tapi masih semangat foto sebelum mendatangi salah satu
pabrik cokelat bernama Chocolate Kingdom. Tempatnya seperti rumah kebanyakan
sehingga kesan homey sangat kental. Turun dari bus, masing-masing dari kami
diberikan kertas tempel berisi nomor dengan tiga digit angka. Begitu masuk, mata
kami dimanjakan dengan beberapa sample cokelat beserta packagenya yang tersusun
rapih. Bagian atas terlihat papan berisikan informasi mengenai jenis cokelat
yang dijajakan. Seorang wanita berusia tidak lagi muda tengah menjelaskan cara
pembuatan cokelat lengkap dengan mesin yang berada tepat di sebelahnya. Kami
dituntun untuk menghampiri sebuah ruangan, di perbatasan pintu seorang wanita
membagikan sample coklat berukuran sedang kepada kami. Rasanya enak dengan
kadar manis yang tidak berlebihan. Berbeda, sample coklat di perbatasan pintu
lainnya justru agak pahit menonjolkan cirri khas cokelat sesungguhnya.
Sampailah kami di sebuah ruangan cinderamara, rasa-rasanya gue pengen borong
semua cokelat yang dijual disana. Miris, setelah dikonversi ke Rupiah ternyata
harga sebatang cokelat bersama hiasan boneka yang menggemaskan itu dibandrol
lebih dari Rp 200.000. Jadilah gue ikhlas menerima keadaan kalau bukan cuma
cinta aja yang tidak harus selalu memiliki, begitupun cokelat.
Teti - Gue - Helni depan hotel
(kenalin, kanan-kiri gue itulah "cabelita"
Perjalanan berlanjut ke
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia. Disana, kami melakukan
brainstorming mengenai pelayanan kependudukan, kesehatan, dan transportasi
bersama perwakilan KBRI Malaysia. Pembicaraan yang lumayan berat, tetapi
dibungkus dengan gaya bahasa rilex nan santai. Sadar kami butuh refreshing,
Pavilion menjadi tujuan berikutnya. Disini, kami berpencar, seperti biasa gue
bersama cabelita (Helni dan Teti) serta kak Nena membentuk kesatuan khusus memburu
oleh-oleh. Langkah kami berhenti tepat di depan Sephora, gudangnya make up dari beragam merk terkemuka di
dunia. Satu per satu warna lipstick kami telaah mendalam demi the best partner
in crime kami, jeung Fera. Setelah kurang lebih hampir 30 menit obrak-abrik
took, sampailah pada warna nude yang kami beri label “Warnanya Fera Banget”.
Perjuangan belum berakhir, sob! Gue masih keliling kawasan Pavilion untuk cari
oleh-oleh. Usai kesana kemari memasuki toko demi toko, akhirnya nemu juga jam
tangan untuk kedua orang tua gue. Jam tangannya terkesan luxury nan expensive,
padahal menurut gue harganya enggak terlalu pricey. Pas lah buat kantong
mahasiswa yang ngerangkap jadi karyawan swasta.
Depan Pintu Masuk KBRI Kuala Lumpur
Sore harinya kami
berkunjung ke Mesjid Putrajaya. Waktu itu gue pakai celana abu-abu tua berbahan
twitscone, atasan kaus model batwing warna hitam, dan pashmina warna dusty
pink. Penampilan gue yang seperti itu agaknya bikin gue ditolak sama security
pas mau masuk ke dalam mesjid. Rupanya, setiap orang atau wisatawan yang mau
masuk ke dalam lokasi mesjid harus mengenakan jubah. Makanya, security
menyarankan gue untuk memakai jubah yang sudah disiapkan pihak pengelola
mesjid. Hampir aja gue putus asa kalau enggak boleh masuk hha. Tempat
peminjaman jubah berada disudut kanan pintu masuk. Setiap pengunjung akan
dipinjamkan jubah berwarna magenta menjurus ke maroon. Ukurannya all size, jadi
siapapun yang pakai pasti muat. Dalamnya seperti mesjid pada umumnya, tetapi
lebih teratur, rapih, dan besar dibandingkan beberapa mesjid yang kami singgahi
shalat. Kalau di Indonesia, mungkin ini agak serupa dengan Mesjid Istiqlal yang
juga mampu menyedot perhatian pengunjung dari berbagai daerah dan negara.
Keabsurdan gue yang melanda gara-gara ditolak masuk sama securitynya hha






Tidak ada komentar:
Posting Komentar